Sabtu, 27 Mei 2017

MEREFLEKSIKAN HARDIKNAS DI KOTA SIBOLGA DENGAN GIATKAN TULIS BACA

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sejatinya mengenang lahirnya sosok cendekiawan Indonesia dalam sosok Ki Hadjar Dewantara. Mengupas profil beliau dalam beberapa kajian sejarah mulai dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi selalu saja teridentikkan dengan kegigihannya menggiatkan pendidikan di ranah nasional. Tergambarkan bahwa dirinyalah seorang yang tidak merasa kenal lelah untuk memperjuangkan nasib rakyat pribumi agar kelak dapat memperoleh asupan didik berkelayakan. Semangatnya adalah dari keterpanggilan dan kesadaran tentang ketidakadilan mengenai pendidikan yang sama sekali tidak mereta pada zaman kolonial yang seolah hanya teruntuk mereka berketurunan Belanda dan segelintir dari orang-orang kaya semata, sedangkan khalayak pribumi sengaja dibiarkan membuta aksara dan jauh dari intelektual yang didamba.

Tidak banyak yang tahu tentang tokoh Pendidikan yang terkenang ini bahwa dirinya terlahir di Yogyakarta tanggal 02 Mei 1889 dengan nama lahir Raden Mas Soewardi Soeryadiningrat. Riwayat pendidikan yang diecapnya adalah SD ELS kemudian berlanjut ke sekolah Belanda bernama STOVIA atau Sekolah Dokter Bumi Poetra namun karena mengidap sakit usahanya tidak sampai pada kelulusan. Pasca dewasa, Ki Hadjar Dewantara yang terkenal dengan kegemarannya menulis dan membaca menjadi sosok wartawan yang sempat mengisi kolom Midden Java,Sedyotomo, Oetoesan Hindia, De Express, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Memanfaatkan media tersebut, urgensi pendidikan lantang disuarakan Ki Hadjar Dewantara. Eksistensi Beliau menuai apresiasi ketika dirinya diamanahkan mengisi kursi Kabinet Pertama sebagai Menteri Pendidikan sekaligus pada tahun 1957 mendapatkan gelar kehormatan Doctor Honoris Causa, Dr. H.C dari Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.

Tutup usia di usia 70 tahun, Ki Hadjar Dewantara meninggalkan bekas jasa yang luar biasa bagi rakyat Indonesia buah hasil kerja keras rintisannya untuk pendidikan tanah air. Salah satu filosofi dari hasil karya Beliau sangat populer dan melekat hingga kini sampai nanti yaitu kutipan “Tut Wuri handayani” yang berarti “Di Belakang Memberikan Dorongan”. Slogan tersebut menjadi landasan dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia. Penobatan Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak Pendidikan Nasional diresmikan pada tanggal 28 November  atas dasar Surat Keputusan Presiden No. 305 Tahun 1959 lalu kemudian hari kelahiran Beliau (02 Mei) ditatapkanlah sebagai Hari Pendidikan Nasional Indonesia.

Beranjak dari cerita tentang cara pandang dan buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang dirinya tulis dalam karya-karya ilmiahnya inilah yang ingin Penulis kaji dalam pembahasan dengan topik merefleksikan hardiknas di Kota Sibolga. Bagaimana korelasi antara karya tulis Ki Hadjar Dewantara, Hari Pendidikan Nasional, Makna, Relevansi dan Bentuk Refleksinya menentang zaman ke kinian. Pada Tahun ini Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan menetapkan tema HARDIKNAS yakni “Percepatan Pendidikan yang Merata dan Berkualitas”. Keadaan zaman sekarang ini merupakan dasar penetapan tematisnya menyadari bahwa percepatan perubahan dunia dari segi informasi dan pembaruannya yang begitu fenomenal sehingga keterlambatan akan membuat bangsa kita semakin jauh tertinggal karena kalah terus dalam persaingan karena negara lain begitu semangat dan ekstra memberikan bekal ilmu kepada lapisan generasinya. 

Dalam sambutannya-yang Penulis sarikan dari pidato Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam peringatan HARDIKNAS 2017 isinya merujuk pada sosok Ki Hadjar Dewantara dan relevansi gagasan dan pemikiran beliau sebagai acuan bagi pembangunan pendidikan nasional. Beberapa dari buah pikir untuk dapat diilhami bersama itu adalah:

(1)    Panca Dharma

Panca Dharma merupakan peralasan 5 (Lima) dasar pendidikan. Adapun kelima dasar itu yakni kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan dan kemanusiaan.  Setelah tegak alasnya maka Kita bergerak kepada tindakan untuk menyelenggarakan pendidikan,

(2)     Kon-3

Adalah ‘kontinuitas’, ‘konvergensi’ dan ‘konsentris’. Ketiga hal ini adalah merupakan dasar yang terpenuhi dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia tanpa bisa ditawar perwujudannya agar pendidikan itu terjaga mutu eksistensinya. Hal ini mempunyai maksud adalah bahwa proses pendidikan itu  perlu berkelanjutan, terpadu dan berakar di bumi tempat dilangsungkannya proses pendidikan.

(3)    Tri Pusat Pendidikan

Pendidikan hendaklah berlangsung di tiga lingkungan yang dikenal dengan istilah Tri Pusat. Tri Pusat Pendidikan adalah Lingkungan Keluarga, Sekolah dan Masyarakat yang notabene saling berhubungan secara simbiotis (saling berpengaruh) dan tidak akan dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Setelah mengupas pandangan pemikiran tersebut, Kita beralih kepada hal yang lebih penting yaitu bagaimana melahirkan bentuk pendidikan terpimpin. Dalam hal ini juga, Ki Hadjar Dewantara mengajukan konsep ‘Laku Telu’ atau Tiga Peran yang dirumuskannya dalam frasa bahasa Jawa. “Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani’’. Inilah konsep kepemimpinan pendidikan yang wajib kita aktualisasikan bersama tanpa memenggal sebagian dari ketiga laku kepemimpinan tersebut dalam praksisnya oleh para praktisi pendidikan Indonesia! ‘’Apabila di depan memberikan teladan, apabila di tengah memberikan ilham (inspirasi) dan  apabila di belakang memberikan dorongan’’. Melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2017 ini, konsep ‘Laku Telu’ dapat kian dihayati dan direalisasikan.

Terkhusus bagi Kota Sibolga, naung pemerintahan yang dinakhodai oleh Bapak Walikota Sibolga Drs. H.M. Syarfi Hutauruk dengan segala program rutin yang diusungnya menghadapi isu strategis pendidikan di negeri berbilang kaum bisa dikatakan terpuji melihat dari segi pembangunan fisik dan pengayaan SDM bermutu dalam usaha ini. Sejumlah sekolah yang dibangun dan direnovasi juga berbanding lurus dengan tuaian hasil maksimal bagi para pelajar dengan tingkat kelulusan yang maksimal bahkan sempat mencapai 100%. Dalam upayanya memenuhi wajib belajar masyarakat Kota Sibolga agar terpenuhi unsur penyelenggaran  pendidikan seperti yang dipedomani dari ‘’Laku Telu’’, bantuan pendidikan pun konsisten untuk diadakan bagi kaum marginal untuk dapat mengenyam pendidikan dan bisa terselesaikan dengan hasil ijazah ditangan.

Menurut amatan Penulis, yang sangat penting kita cermati bersama saat ini adalah bukan pada hasil diatas kertas melainkan mencakupi segala kecakapan setiap peserta didik baik di bangku sekolah maupun perguruan tinggi. Bagaimana sebenarnya pendidikan ini terlihat jelas domain efeknya pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan hingga suatu saat dapat berkemajuan juga pastinya akan berdaya saing? Barang tentu yang bisa menjadi tolak ukur kita adalah karya nyata pendidikan itu sendiri. Siswa dan guru yang berprestasi secara nasional, karya-karya penyelenggara dan peserta didik yang bisa terpublikasi dan berkemanfaatan bagi masyarakat serta implementasi disiplin ilmu ke dalam bisnis yang berkeuntungan. Sebaik-baik orang berilmu adalah mereka yang berhasil mengonversikan segala macam bentuk teoritis menjadi praksis. 

Penulis menyepakati bahwa begitu pentingnya percepatan pendidikan secara merata itu terealisasi seperti apa yang ditemakan dalam Hari Pendidikan Nasional tahun 2017 ini namun untuk menggegasnya tidaklah terfokus pada genjotan pendidikan formal. Khususnya, Kota Sibolga perlu untuk lebih interaktif lagi dalam mengkomunikasikan pendidikan melalui pelbagai media tidak terpaku dalam lingkup sekolah semata. Masa keemasan portal digital misalnya, menawarkan banyak spasi untuk Kita dalam mengisi konten-konten edukatif.

Jika Kita mampu menyimak sejarah bagaimana pengaruh Ki Hadjar Dewantara yang menginspirasi dalam buah karya yang dituliskannya sehingga mengubah pola pikir yang tertinggal menjadi lebih termajukan maka tantangan kita pada saat ini adalah bagaimana untuk terus menerus mengembangkan. Dengan menggiatkan usaha menulis oleh dan bagi para civitas akademis di kota ini, hal demikian merupakan salah satu langkah mudah melestarikan ide-ide dan pandang pemikiran cendikiawan serta tersalur pula bagi para pembacanya apapun pesan autentik yang tertuliskan terserah apapun yang menjadi topik pembahasan. Menyanding formalitas belajar mengajar di dalam kelas, keharusan lain yang sebaiknya dimiliki adalah kemampuan para aktifis akademik (Dosen, Guru, Mahasiswa, Siswa dan Pemerhati) untuk lebih aplikatif memanfaatkan media massa. Jika kita masih belum lazim dengan metode audio visual (seperti video dokumenter) atau belum terbiasa untuk berbicara langsung untuk dipublikasikan (siar dialog interaktif), Kita bisa memulainya dengan menulis. Menulis merupakan cara ampuh merekam dan membagikan hasil buah pikir kita seperti Ki Hadjar Dewantara yang menginspirasi lewat tulisannya.

Menulis di media cetak mungkin butuh proses tapi kemajuan tekhnologi menjadikan kita sekarang mudah untuk menerbitkannya. Misalnya menulis di media sosial (Halaman, Web atau Blog) yang cenderung lebih digemari karena zaman kini dunia maya lebih acap disinggahi siapapun dari golongan manapun. Alangkah baik tentunya andai budaya menulis itu menjadikan beranda dunia maya kita lebih kaya akan suguhan edukasi dan merangsang minat membaca kita bersama. Model begini yang mungkin belum sungguh-sungguh kita mulakan seperti apa yang telah diterapkan di kota besar bagaimana para guru dan dosen sampai pelajarnya mengkonstruksikan karya-karya mereka. Kapan kita memulainya? Itu pertanyaan mendasar dan untuk dalam rangka merefleksikan hardiknas di Kota Sibolga maka sebagai salah satu cara yang diyakini mampu mengakselerasikan percepatan pendidikan itu-Kota Sibolga harus mampu menjadikannya segera.

Ki Hadjar Dewantara memperjuangkan pendidikan melalui metode menulis sebagai karya sehingga dapat mendoktrin kita semua untuk menyepakati buah pikirnya, atas dasar itulah Penulis percaya kita juga bisa memberikan sedikit pengaruh jika meneladani kiprahnya. Demikian yang dapat Penulis sampaikan sebagai masukan untuk Kita semua, terkhusus bagi pribadi Saya sendiri selaku putra daerah sekaligus aktitifis pendidikan pula dalam predikat mahasiswa yang menggemari kegiatan menulis dan membaca yang berharap bahwa Kota Sibolga bisa segera berkemajuan. Besar harapan ini kiranya penulis lebih bisa diapresiasi untuk meningkatkan mutu sajian tulisannya dan memanjakan para pembaca terhadap apa yang baru saja mereka ilhami dari suatu bacaan. Jika tulisan baik, maka meningkatnya minat baca masyarakat adalah sebuah keniscayaan. Semoga dalam memaknai Hari Pendidikan Nasional ini dapat kita jadikan momentum untuk kemajuan pendidikan di Sibolga Nauli yang sama-sama Kita cintai. 


Data Pribadi Penulis
Nama:
Irfan Arhamsyah Sihotang
Tempat/Tanggal Lahir:
Sibolga/ 02 Oktober 1991
Alamat:
Jl. S. Parman No. 98 Kota Sibolga
Nama Perguruan Tinggi:
STIE Al-Wahsliyah Kota Sibolga
Nomor Telepon:
085358093559

Jumat, 23 November 2012

BUSY MAN: KREATIF, KOLEKTIF dan AKTIF!

Nih dari judulnya udah ketahuan kali ya, rada2 berbau promo! Hehehe
Ya Ya Ya, Saya ini memang mau berbagi pengalaman dan cerita tentang sesibuk apa sih Saya…
(GAYANYAAAAAAAAAAAAA!)

Ada hal-hal yang menggelitik ketika orang lain yang bukan teman dekat Saya mulai beropini tentang Saya. Katanya, Saya ini bukan orang yang bisa fokus terhadap satu masalah, labil dan tidak konsisten serta mood-moodan. Ini tentunya gosip yang kurang sedap! Pamor Saya bisa anjlok kalau ini dibiarin terus. *bagi para cewek, jangan percaya ya, Saya ini cowok yang keren kok! Hahaha

Tapi kalau Cuma diperhatikan sejenak, mungkin ada benarnya juga, Eh! Tapi bukan semuanya yah… Kalau masalah tidak bisa fokus terhadap satu hal, Saya akui itu benar, bahkan kalau Saya merancang sesuatu hal, Saya gak pernah bisa gak mikirin makanan, cewek, lagu favorit, masalah kerja dan hal-hal lain di luar konteks permasalahan. Beberapa orang menilai Saya terlalu obsesif! Tapi Saya tidak pernah menggantung sebuah pekerjaan, yang pasti Insya Allah semua pada sukses meski tidak selalu dapat kerugian. Kalau mood-moodan sih iya, tapi jika pekerjaan itu profesional, Saya kadang tidak begitu terpengaruh keadaan yang buruk.

Saya lebih setuju kalau orang beranggapan Saya ini multi-talenta dari pada dibilangin pemuda labil. Sekarang aja Saya melakoni Empat jenis pekerjaan sekaligus. Wah-wah, kerenkan? Awas lo, kalo gak ngakuin. Bilang aja iya, walau terpaksa.

Alhamdulillah, Saya merasa Tuhan sudah memberikan karunia kebaikan pikiran kepada Saya, juga kasih beberapa jenis keterampilan dan mempertemukan Saya dengan rekan dan sahabat yang bisa menopang dan mengiringi Saya. Saya mah kalo kejalan kesuksesan sering ngajak2, baik kan? Hehehe

Apa sih kegiatannya?

Diawal tahun Saya membuka sebuah usaha dibidang fashion, atas kerja sama yang baik dengan salah satu teman Saya yang sangat bersahabat, bernama Cuprit *namanya aneh banget yah! Peace, Prita…. Kami, Saya dan dua sahabat terhebat Saya, Erwin dan Rahman pun menjalani usaha ini. Jadi, Wirausahawanlah Sayanya…
Terus masih aktif dalam aliansi kepemudaan/kemahasiswaan dan tetap memelihara keidealisan serta semangat nasionalisme untuk membangun Indonesia walau dengan skala kecil dalam naungan GERMASI.

Kemudian diminta jadi Jurnalis di harian media lokal, biasanya Saya ngisi kolom artikel atau rubrik opini, tapi akhirnya jadi wartawan lapangan.
 

Trus modelling dan Syuting. *nah, kalau ini bohongan… Jangan percaya…

Dan yang terakhir jadi Anak Muda Rumah Tangga, mengurusi segala macam yang berhubungan dengan keluarga, rumah dan usahanya.
 
Trus dimana tepatnya kata KREATIF, KOLEKTIF dan AKTIF itu disematkan pada Saya?
Saya juga gak tahu, kan Saya tadi udah ngaku, kalau judul itu cuma permaianan kata untuk nyuri perhatian pembaca, tapi kalau pembaca tetap mau ngasih kredit seperti itu dalam menilai  Saya, Saya mah gak nolak, Thanx Ya….  Hahaha *GE-ER

WAJAH BARU THE IMAGINARIUM OF IVAN

Hampir setahun lamanya, sejak postingan tulisan Saya di entri terakhir tertanggal 11 Desember 2011, Blog ini usang tanpa kunjungan, sentuhan dan perhatian dari Saya. Jadi Saya tidak begitu kaget ketika masuk ke blogger dan membuka blog ini, begitu banyak debu yang menyelimuti properti bahkan sarang laba-laba pun memenuhi langit-langit dan setiap dindingnya! Huuft, belum lagi lantainya jorok. Wah, butuh kerja keras lagi deh tuk beresin semuanya! :)

Selama beberapa tahun ini, Saya memang sedang banyak kegiatan, jadi aktifitas menulis di blog terabaikan. Apalagi Saya sudah buka forum menulis di group facebook yang dinamai “Formasi Pena”, jadi lebih sering menulis disitu bersama rekan-ekan lainnya. Sampai akhirnya muncul niatan Saya untuk membuat blog baru (seolah-olah gak kenal lagi sama blog tua ini), yang rencananya akan menulis review film dan segala tetek-bengek dunia perfilman. Dikarenakan hobbi nonton Saya yang melonjak bobot frekuensinya, Saya jadi punya banyak cerita yang ingin Saya tuliskan tentang dunia perfilman. Kalau memposting tulisannya di blog ini, entah kenapa Saya ngerasa gak enakan, karena awalnya, pembuatan blog ini hanya untuk pengganti diary, aneh aja kalo tiba-tiba jadi wadah tuk gosipin artis. Hehehe… Setelah membuat berbagai persiapan, eksekusi membuat blog baru pun akhirnya gagal! Kenapa? Jujur, Saya lupa step by step  cara membangun rumah menulis yang baru. Yah, akhirnya Saya mutusin untuk balik ke rumah blog Saya yang ini. *padahal rencananya rumah blog yang ini mau dikontrakin, kan lumayan tuk nambah penghasilan. :(

Bagi para pembaca yang pernah berkunjung ke sini mungkin bisa merasakan perbedaannya. Latar dan tema violet yang dulu dipasang sekarang udah diganti dengan warna hitam dengan coretan ekstrim berwarna putih ala EMO. Juga beberapa fontnya diubah untuk menambah karakter elegannya. Judul blog juga sekarang gak Saya tulis tuh, Cuma masang gambar wajah Saya yang imut-imut tu aja, kan lebih good looking. Hehehe

Yang lebih moncolok lagi mungkin  gaya bahasa Saya yang kembali berubah. Memang sangat tidak konsisten yah! Kalau dihitung-hitung, ini pergantian gaya bahasa Saya yang ke-empat kalinya sejak blog ini lahir. Kalau di awal postingan gaya bahasa Saya sedikit alay dengan gue-lo-nya dan kental dengan unsur komedi, Eh... postingan selanjutnya Saya sudah mulai serius-santai dengan ke-Aku-an, dilanjutkan dengan gaya bahasa acak2kan campur antara Komedi dan Serius, Nah sekarang gaya bahasanya sok Kharismatik gitu. Hehehe

Well, kali ini Saya akan berusaha untuk tetap rajin nulis di blog ini, semoga para pembaca juga makin rajin untuk berkunjung dan ber-blog ria bersama Saya. Inilah wajah baru dari Blog Saya, semoga banyak yang suka.

Kamis, 15 Desember 2011

Novel Legenda Tugu Ikan Sibolga, Fiction Story Awarded as Legend!

Akhirnya aku bisa juga menyelesaikan sesuatu yang seharusnya begitu sulit untuk ku selesaikan. Mungkin saja karena ketidaktotalitasan aku dalam bercita-cita sebagai seniman adalah faktor utama yang mendorongku untuk terus mencari alasan berbunyi kesibukan atau mood yang sering menghilang. Tapi, semenjak terciptanya karya ini, aku merasa yakin bahwa aku adalah salah satu dari mereka yang beruntung bisa terkenal seperti J.K Rowling, Jostein Gaarder dan lain-lain. Ya, kami adalah komposer cerita fiksi. Yang membedakan kami adalah, aku belum terkenal.

Well, sedikit curhat mengenai penciptaan karyaku yang berjudul “Legenda Tugu Ikan” ini termotivasi dari pagelaran Festival Kreasi Cerita Rakyat Sumatera Utara oleh Perpustakaan. Aku yang ambisius langsung beraksi, meski terlalu lama untukku menerima berita ini. Kesempatanku untuk berpartisipasi hanya memiliki 10 hari durasi penciptaan sementara tuntutan cerita mesti menyelesaikan minimal 40 halaman. Gila fikirku, namun semangat sudah terlanjur menggebu, Aku dan Acerriya (My Beloved Laptop) mulai berpadu dalam imajinasi dan menulis disetiap saat ketika suara-suara bisikan dan gambar-gambar hayalan mulai menghampiriku.

Perpaduan antara filosofi hidup, kata bijak, romantisme dan kalimat puitis hingga citra seni pendeskripsian dari beberapa penggalan aksi adalah unsur pembentuk karya ini. Dihiasi dengan pendekatan internal terhadap kultur budaya dan doktrin yang terbangun dari paradigma masyarakat pesisir menjadi khas dari cerita yang mengambil latar kota Sibolga ini. Inspirasi pun berdatangan, terlebih dari kegemaranku menonton film Hollywood hingga akhirnya sense itu  yang menjadi cita rasa dari cerita yang ku anggap layak menjadi legenda baru ini. Legenda Tugu Ikan, judul yang memuat keadaan bersejarahkan kerajaan dalam aktifitas pemerintahan. Meski tak berbeda jauh dari cerita legeda Indonesia yang biasanya, namun Aku berharap fill dari cerita ini tertangkap karena keunikannya.

Batas waktu yang ditentukan sudah tiba, dan Aku siap dengan 2 Jilid Novel perdanaku yang ceritanya sempurna. 63 Halaman terangkai dan Aku siap mendatangi panitia penyelenggara.
 
Lebih dari 2 Minggu, akhirnya kabar sampai kepadaku via telepon genggam. Seorang wanita menyuruh Aku untuk datang ke kantor perpustakaan. Aku mengindahkan perintah itu dengan sedikit tanda tanya.

Sesampainya disana, Aku telah berada diantara kerumunan orang-orang yang kebanyakan tidakku kenal, satu diantara mereka berprofesi sebagai lurah. Kedatanganku ternyata yang dinanti, setelah itu berlangsung sebuah acara semi formal di ruangan Kepala Perpustakaan yang tidak ada yang menarik hingga akhirnya ada keterkecualian saat salah satu dewan juri menyampaikan hasil penilaiannya.

“Aku sudah membaca semua tulisan kalian, dan Aku lihat sudah hampir baik namun masih ada terselip kesalahan dalam tata pembuatan novel. Hingga yang paling fatal dan Aku sangat menyesal adalah adanya satu karya dengan gaya tulisan yang bagus namun bukan merupakan bagian dari ketentuan lomba. Diwajibkan cerita yang diangkat adalah cerita legenda, bukan fiksi yang keduanya adalah sangat jauh berbeda. Aku tidak usah sebutkan namanya. Ceritamu menarik dan bagus. Namun dalam Legenda unsur pembentuknya adalah adanya keterkaitan sejarah dan benang merah yang tak boleh terpisah, yang dikarangan fiksi kamu terbebas dari peraturan itu.”
Mendengar kalimat itu, aku langsung bereaksi dan mengaku bahwa yang dimaksud Pak Lubis tadi pastinya adalah karanganku. Aku berusaha membela diri dengan berbalik menyalahkan pihak perpustakaan yang tidak tahu membuat kalimat yang benar dalam pengumumannya.

Mereka menulis, “Kreasi Cerita Rakyat Sumatera Utara”. Nah, dari kalimat itu saja jika dikaji secara tata bahasa, arti kreasi adalah mencipta apalagi mereka membuat ketentuan tidak boleh menjiplak atau meniru cerita yang telah ada. Berarti aku bebas membuat cerita berdasarkan kreasiku meskipun akan terkesan fiksi. Namun aku dianggap salah, setelah mereka ternyata bermaksud bahwa lomba ini adalah lomba memodifikasi cerita rakyat yang telah ada namun diceritakan dengan bahasa kita sendiri. Kalo begitu ceritanya, berarti cerita yang ku buat ini tak lain adalah sampah karena memang tidak sesuai dengan aturan semestinya. Memang aku akui, cerita ini adalah fiksi tanpa referensi pasti meski mendekat pada produk budaya Sibolga. Aku akhirnya marah dan mendebati mereka semua diruangan itu.

Pengumuman pun ku dengar dengan hati yang terbakar amarah, aku tak lagi pada kebaikan mood ku saat itu. Satu persatu para pemenang terpanggil yang lucunya juga menyebutkan namaku. Namun aku tetap kesal.

Secara Pribadi, aku sangat bangga bisa menyiapkan karya orisinil dengan kemampuanku sendiri. Secara Seniman, Penghargaan bukanlah sebuah piagam, piala atau sekedar uang bina. Aku tak butuh itu karena seni untuk jiwa yang bahkan kita sendiri pun tak tahu betapa tingginya harga dari kesenangan atas keberhasilan karya itu. Secara peserta lomba, aku harus merasa kecewa dengan terpilihnya aku sebagai salah seorang pemenang dimana aku sadar aku tak punya hak memenangkan semua ini karena karyaku menyalahi aturan. Aku sangat ingin bertanya kepada dewan juri, dan aku akan melukannya.

“Atas dasar apa bapak memenangkan aku? Jika aku menyalahi aturan yang semestinya.

“Jika memang ternyata karyaku berpotensi untuk menang, mengapa bukan menjadi yang nomor satu? Pertimbangan apa yang Bapak ambil untuk menilai semua ini?”

“Lebih baik karyaku tak dimenangkan dari pada menang tapi tidak menjadi yang seharusnya.”

Mungkin itulah kata-kata yang akan ku hujani pada mereka yang terhormat, tapi setelah penyerahan hadiah itu, mereka pergi secepat mungkin tanpa meninggalkan jejak. Sial.

 
Ehm…
Namun secara orang yang ingin terhargai, jujur Aku sebenarnya juga merasa senang dengan prestasi yang lumayan ini. Apalagi, ini adalah piala pertama Aku dalam bidang seni setelah gagal menjadi anak Band yang terkenal. Hahaha. Thanx God.

Spesial Thanx to:
Semua yang telah berpartisipasi dalam penyelesaian karya ini. Ajang selanjutnya prestasi ini akan coba kita tingkatkan.